Senin, 24 Mei 2010

Ciri- ciri diagnostic dari Enuresis sesuai DSM- IV:

•Anak berulang kali mengompol di tempat tidur atau pakaian (baik disengaja maupun tidak).
•Usia kronologis anak minimal 6 tahun (atau anak berada pada tingkat perkembangan yang setara).
•Perilaku tersebut muncul setidaknya dua kali seminggu selama 3 bulan, atau menyebabkan hendaya yang signifikan dalam fungsi atau distres.
•Gangguan ini tidak memiliki dasar organik.

Penyebab enuresis

Enuresis primer di sebabkan oleh :
a. Factor genetik
b. Keterlambatan matangnya fungsi sususnan syaraf pusat
c. Gangguan tidur, tidur yang terlalu dalam ( deep sleep ) membuat air seni tidak dapat dikontrol dan tidak tebangun saat air seni sudah penuh dalam kandung kemih
d. Hormone anti diuretic kurang
e. Kelainan anatomi

Enuresis sekunder di sebabkan oleh :
a. Stress kejiwaan, misalnya pelecehan seksual, mendapatkan adik baru, atau kematian dalam keluarga.
b. Kondisi fisik terganggu seperti infeksi saluran kencing, diabetes, sembelit bahkan alergi.

Jenis enuresis

Enuresis terbagi menjadi enuresis nokturnal yaitu enuresis pada malam hari, dan enuresis diurnal yaitu enuresis pada siang hari. Menurut awal terjadinya, enuresis dibagi menjadi enuresis primer, bila enuresis terjadi sejak lahir dan tidak pernah ada periode normal dalam pengontrolan buang air kemih, sedang enuresis sekunder terjadi setelah 6 bulan dari periode setelah kontrol pengosongan air kemih sudah normal, terganggu oleh kejadian lingkungan yang memicu penyebab psikologis, ini biasanya tidak continue dan sementara.
Sebagian besar anak mengalami enuresis jenis nokturnal (atau malam hari). Mereka mengompol selama mereka tidur. Kadang-kadang, beberapa anak mengompol pada siang hari saat mereka terjaga (enuresis diurnal). Mereka mungkin memiliki kandung kemih yang tidak stabil, yang berhubungan dengan infeksi saluran kemih buang air kecil dan yang terlalu sering. Anak-anak ini dapat dirujuk ke dokter anak dan mungkin akan diberi obat selama beberapa waktu yang dapat melemaskan otot kandung kemih.

ENURESIS

enuresis, yaitu mengeluarkan air seni secara tidak sadar pada usia dimana seharusnya sudah dapat mengendalikan keinginan buang air kecil, dan hal ini merupakan hal yang umum terjadi pada anak dan remaja yang bila terjadi ketika tidur di malam hari disebut dengan Enuresis Nocturnal. Anak-anak mencapai kontrol kandung kemih (kontinensi) pada usai yang berbeda beda, sebagian besar anak anak mengalami kontinensi pada usia 4 atau 5 tahun.
Enuresis terjadi pada 20% anak berusia 5 sampai 6 tahun dan sekitar 1% remaja. Sebagian besar anak yang mengalami enuresis dinyatakan normal secara fisik dan emosional. Walaupun beberapa dari mereka memang ada yang memiliki kandung kemih yang kecil, tetapi hal ini seharusnya tidak menghalangi mereka untuk tidak mengompol.
Enuresis sering merupakan turunan dalam keluarga, sekitar 85% anak yang mengalami enuresis memiliki kerabat yang juga mengalami enuresis, dan sekitar setengah dari mereka memiliki orang tua atau saudara yang juga mengalami enuresis. Enuresis dilaporkan pada 43% anak dari ayah penderita enuresis, 44% anak dari ibu penderita enuresis dan 77% anak bila ibu dan ayahnya penderita enuresis.

Minggu, 23 Mei 2010

Hal yang perlu diingat

•gangguan bahasa reseptif berarti bahwa anak memiliki kesulitan dengan pemahaman apa yang dikatakan kepada mereka.
•Penyebab gangguan bahasa reseptif tidak diketahui, tetapi diduga terdiri dari sejumlah faktor yang bekerja dalam kombinasi. Pilihan pengobatan termasuk terapi wicara-bahasa.

Pengobatan

kemajuan si anak tergantung pada berbagai faktor individu, misalnya apakah cedera otak atau tidak hadir. Pilihan pengobatan dapat mencakup:
•Pidato bahasa terapi
•Satu-satu terapi serta terapi kelompok, tergantung pada kebutuhan anak
•Khusus pendidikan kelas di sekolah
•Integrasi dukungan di prasekolah atau sekolah dalam kasus-kasus kesulitan yang parah
•Arahan ke layanan kesehatan mental untuk perawatan (jika ada juga masalah perilaku yang signifikan).

Metode diagnosis

Penilaian kebutuhan untuk menentukan daerah-daerah tertentu anak kesulitan, terutama bila mereka tidak menanggapi bahasa lisan.Diagnosis mungkin termasuk:
•Mendengar tes oleh audiolog untuk memastikan masalah bahasa tidak disebabkan oleh gangguan pendengaran dan untuk menetapkan apakah atau tidak anak mampu memperhatikan suara dan bahasa (auditori penilaian proses).
•Menguji pemahaman anak (oleh patolog pidato) dan membandingkan hasilnya ke tingkat keterampilan yang diharapkan untuk usia anak. Jika anak dari sebuah rumah yang tidak berbahasa Inggris, penilaian pemahaman harus dilakukan dalam bahasa pertama mereka dan juga dalam bahasa Inggris, dengan menggunakan bahan budaya yang sesuai.
•Tutup observasi anak dalam berbagai pengaturan yang berbeda saat mereka berinteraksi dengan berbagai orang.
•Penilaian oleh neuropsychologist untuk membantu mengidentifikasi masalah kognitif yang terkait.
•Visi tes untuk memeriksa kehilangan penglihatan.